Bagi Yuni, mudah saja berdagang tikar. Namun proses untuk menganyam dan menghasilkan tikar, butuh waktu lama. Bagaimana ia harus turun ke sungai sedalam ukuran dada demi memperoleh bahan tikar, belum lagi saat dianyam butuh waktu hingga berhari-hari dan karena kesibukannya menganyam di kampung halaman, menyebabkan badan Yuni sering sakit-sakitan. Ia memilih untuk vakum serta pindah ke Kota Kendari sementara waktu dan menjadi pemulung.
Baca Juga: Sering Dikira Pengemis, Pedagang Ini Pernah Diusir Satpol PP
Awalnya, memulung membuat Yuni malu. Seiring berjalannya waktu karena sering ikut-ikutan tetangga dan sering memulung bersama-sama, Yuni mulai terbiasa. Meski penghasilannya tidak tetap, ia juga tetap memulung.
"Kadang-kadang kami memulung tidak dapat Nak. Yang penting bisa beli beras habis itu pulang kampung. Istirahat satu-dua minggu baru menganyam lagi," tuturnya.
Di Kendari Yuni tinggal bersama salah satu anaknya yang sudah menikah. Kehidupannya kadangkala dibantu anak yang bekerja di salah satu percetakan di Kota Kendari. Mereka tinggal bersama di Jalan Sao-Sao.
