Soal memperbaiki kinerja keuangan Pertamina kata Edy Mulyadi, alih-alih mempertahankan apalagi meningkatkan laba yang terjadi justru Pertamina dihantam rugi sangat besar senilai Rp 11,3 triliun.

Baca juga: Pemerintah Mulai Bolehkan Pembukaan Bioskop

"Jangan jadikan pandemi COVID-19, situasi global atau yang lainnya sebagai dalih untuk menutupi kelemahan dan ketidakbecusan. Banyak perusahaan minyak dunia lainnya masih bisa memetik untung, kok," cetusnya.

Ia mencontohkan Sinopec Cina, labanya justru naik dari 14,76 miliar yuan jadi 19,78 miliar yuan. Lalu, Shell Belanda. Labanya memang turun dari 3,5 miliar dolar AS tapi tetap masih untung 2,9 miliar dolar AS. Bahkan Petronas, juga masih mencetak laba 4,5 miliar dolar AS, walau turun dari Laba 14,2 miliar dolar AS.

"Jadi, tidak perlu mencari-cari justifikasi untuk menutupi ketidakmampuan. Apalagi, selama berbulan-bulan harga minyak dunia anjlok, Pertamina tetap menjual BBM di dalam negeri dengan harga tinggi," jelasnya.