Ia mengaku, pada awal pembangunan sekolah dirinya membeli lahan dengan cara tukar tambah sepeda motor Yamaha Vixion dan menambah uang sebesar Rp 7 juta, karena keadaan ekonominya yang tidak mendukung.
Baca Juga: Pembangunan Pabrik Produksi Aspal Buton di Karawang Jawa Barat Mendapat Penolakan
“Hanya karena semangat untuk membangun pendidikan saja dan modal nekat,” ujar Jalimu.
Meski telah berjalan selama empat tahun, kondisi belajar mengajar di sekolah tersebut masih jauh dari kelayakan. Para siswa harus belajar secara bergiliran antara ruang indoor dan outdoor akibat keterbatasan ruang belajar.
“Kondisi belajar mengajar saat ini dengan mode gilir atau berebut kelas antara kelas indoor dan outdoor dikarenakan kondisi ruang belajar yang masih kurang memadai dan jauh dari kata layak,” ungkap Jalimu.
