Ia mengisahkan, para sopir kontainer setiap hari harus bertaruh nyawa saat melintasi jalan tersebut, yang dipenuhi lubang, bergelombang, dan licin saat hujan mengguyur serta dipenuhi debu jika musim kemarau.
"Sudah dari 2019 sejak pertama kali dibangun Pelindo sampai sekarang, jalan tersebut belum pernah diperbaiki, warga sekitar pun sudah risih dengan jalan rusak tersebut," tambah Alisman.
Sopir lain yang mengikuti demo, Ilang, mengatakan kerusakan jalan dari Bungkutoko ke Pelindo juga berdampak pada keterlambatan arus logistik. Mereka juga mengaku kerap mengalami kerusakan kendaraan.
"Kendaraan kami sering rusak. As Roda kontainer kami juga biasa rusak saat melintasi jalan itu. Ongkos perbaikan kontainer terbilang cukup mahal. Belum lagi kalau barang telat sampai ke tujuan, kami pun dimarahi," ungkap Ilang.
Menanggapi demonstrasi oleh para sopir kontainer, Ketua Komisi III DPRD Sulawesi Tenggara, Saleha Sanusi, menyebut kondisi jalan Bungkutoko–Pelindo sangat memalukan dan merupakan tamparan keras bagi pemerintah daerah.
