"Harusnya timsel KPU membuka hasil tes dan diurut sesuai peringkat nilai yang didapatkan masing-masing peserta seleksi untuk menghindari kecurigaan dan prasangka negatif atas keputusan timsel KPU," katanya, Rabu (15/3/2023).
"Saya kira keputusan timsel tidak logis dan rentan permainan, karena tak satu pun incumbent KPU Sulawesi Tenggara yang lolos dalam 20 besar, tidak mungkinlah hasil tes psikologi kami di bawah rata-rata atau tidak disarankan/tidak direkomendasikan oleh pemeriksa dari Dinas Psikologi Mabes TNI AD, kami sudah beberapa kali melewati tahapan psikologi," tambahnya.
Sehingga kata Aldy, jika Timsel KPU Sulawesi Tenggara tidak mengumumkan dan membuka hasil tes CAT, esai dan psikologi dalam bentuk nilai yang didapatkan seluruh peserta seleksi, maka patut diduga timsel tidak bekerja profesional, transparan dan akuntabel sesuai yang digariskan Undang-Undang Pemilu, PKPU dan Keputusan KPU.
"Yah, kami patut duga timsel ada main dengan peserta yang lolos 20 besar," tuturnya.
Aldy menegaskan, dugaan permainan itu didapatkan dari adanya oknum timsel KPU yang diduga dibiayai oleh peserta seleksi untuk biaya ke Bandung. Hal itu diduga untuk mempengaruhi atau merubah hasil psikologi.
