KENDARI, TELISIK.ID - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Tenggara, Yusmin, mengoptimalkan penerapan Kurikulum Merdeka Belajar melalui aksi nyata guru dan siswa SMA, SMK dan SLB. Hal ini dilakukan karena penerapan merdeka belajar belum cukup optimal. Bahkan rapor pendidikan di Sulawesi Tenggara secara nasional merah.

Melihat kondisi ini, Yusmin bergerak cepat dalam peningkatan kualitas pendidikan. Gaung merdeka belajar terus dioptimalkan. Karena merdeka belajar fokus para implementasi guru merdeka, pemanfaatan platform merdeka belajar, sehingga kualitas dan keaktifan guru dan siswa secara langsung bisa terpantau melalui platform itu.

Ia menambahkan, dalam platform merdeka belajar, semua guru dan siswa harus memiliki akun ID baik tingkat SMA, SMK maupun SLB. Akun ID para guru di Sultra pada 2 atau 3 bulan lalu, berada di peringkat 28-30 dari 38 provinsi di Indonesia dan dianggap belum melek teknologi.

“Saat itu, penerapan Merdeka Belajar di Sultra masih sangat minim. Jangankan pemanfaatan platform merdeka belajar, aktivasi untuk ready belajar di platform itu saja masih sangat susah, baik guru maupun siswa,” ungkap Yusmin, Senin (6/3/2023).

Sukses dan tidaknya implementasi kurikulum merdeka belajar dapat dilihat dari persentase guru aktif di platform merdeka belajar yang dinilai sebagai bentuk aksi. Kurikulum Merdeka Belajar dilakukan untuk memperbarui (update) pengetahuan yang dimiliki oleh guru.