
"Kami mengadakan seminar ini karena selama ini analisis terkait benda di museum masih ada ketidaksesuaian. Ini menjadi inisiatif kami untuk mengundang para pakar di Sulawesi Tenggara, terutama dari dua daerah, yaitu Konawe dan Kolaka. Ke depan, kami akan agendakan untuk wilayah kepulauan, yaitu Muna dan Buton," ujarnya.
Ia menambahkan, tujuannya agar setiap data yang ada dapat sesuai dengan benda-benda yang dipamerkan di museum, sehingga masyarakat, bahkan pelajar mulai dari SD hingga SMA, ketika berkunjung dapat memahami setiap koleksi di museum.
Salah satu narasumber seminar, Dr. Basrin Melamba, sejarawan Sulawesi Tenggara dan akademisi dari Universitas Halu Oleo (UHO), menyampaikan pentingnya pengkajian koleksi museum sebagai sumber sejarah.

