Kebutuhan kuliah membuat Evi memilih pekerjaan yang dapat memberikan penghasilan setiap hari. Uang tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, seperti bensin, makan, hingga biaya tempat tinggal anaknya yang harus kos.

"Kalau dijualkan hari-hari dapat uang, alhamdulillah. Kalau dibandingkan kerja sama orang kan per bulan lama. Kebetulan anak cewek yang nomor dua ini mau kos karena jauh kalau bolak-balik naik ojek daring," ujarnya.

Evi mulai berjualan di lampu merah sejak 2016. Lokasinya berpindah-pindah di sejumlah titik di Kota Kendari.

Untuk membuat kerupuk opak, Evi mulai bekerja sejak pukul 05.30 Wita. Ia menggoreng dan mengemas sendiri dagangannya sebelum berangkat berjualan sekitar pukul 10.00 Wita. Satu bungkus kerupuk dijual seharga Rp 5.000.

Namun, pekerjaan tersebut juga memiliki risiko. Evi mengaku beberapa kali harus berhadapan dengan penertiban yang dilakukan petugas Satpol PP dan Dinas Sosial.