"Plusnya alhamdulillah bagus, minusnya dikejar-kejar. Dua minggu lalu jualan saya diambil, dari 60 bungkus kerupuk sisa sedikit, rugi sekitar Rp 225.000. Sebenarnya dilarang dan kami yang salah, tapi kadang terpaksa karena keadaan," tutur Evi.

Sebelum mengandalkan penjualan kerupuk dan tisu, Evi pernah bekerja sebagai kuli bangunan, buruh cuci panggilan, serta membersihkan kebun milik warga.

Ia tetap memilih berjualan karena penghasilan suaminya sebagai buruh bangunan tidak menentu. Dengan kondisi tersebut, Evi berusaha mendapatkan pemasukan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dari hari ke hari.

Untuk menuju lokasi berjualan dari rumahnya di Alolama, Evi biasanya diantar anaknya atau menggunakan jasa ojek.

Meski menghadapi berbagai kendala, Evi mengatakan dirinya akan tetap berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Ia berharap ketiga anaknya dapat menyelesaikan pendidikan dan memiliki kehidupan yang lebih baik.