KENDARI, TELISIK.ID - Seorang ibu di Kendari berjualan kerupuk opak dan tisu di lampu merah untuk membiayai kuliah dua anaknya sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga.
Evi (42), warga Kelurahan Alolama, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, setiap hari menjajakan kerupuk opak dan tisu di persimpangan lampu merah Jalan Made Sabara, Kelurahan Korumba.
Penghasilan dari berjualan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan tiga anaknya. Dua di antaranya kini menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
"Saya menjual tisu sama kerupuk opak di lampu merah. Alasannya itu karena selain untuk kebutuhan sehari-hari, pastinya karena anak sekolah. Kebetulan anak saya ada dua orang yang kuliah," kata Evi kepada telisik.id, Jumat (2/10/2026).
Anak pertama Evi yang berusia 23 tahun sedang menempuh pendidikan di jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan bersiap menghadapi wisuda. Anak keduanya, 20 tahun, tercatat sebagai mahasiswa semester 5 jurusan Hukum. Sementara anak ketiganya yang berusia 11 tahun masih duduk di kelas 6 sekolah dasar.
Kebutuhan kuliah membuat Evi memilih pekerjaan yang dapat memberikan penghasilan setiap hari. Uang tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, seperti bensin, makan, hingga biaya tempat tinggal anaknya yang harus kos.
"Kalau dijualkan hari-hari dapat uang, alhamdulillah. Kalau dibandingkan kerja sama orang kan per bulan lama. Kebetulan anak cewek yang nomor dua ini mau kos karena jauh kalau bolak-balik naik ojek daring," ujarnya.
Evi mulai berjualan di lampu merah sejak 2016. Lokasinya berpindah-pindah di sejumlah titik di Kota Kendari.
Untuk membuat kerupuk opak, Evi mulai bekerja sejak pukul 05.30 Wita. Ia menggoreng dan mengemas sendiri dagangannya sebelum berangkat berjualan sekitar pukul 10.00 Wita. Satu bungkus kerupuk dijual seharga Rp 5.000.
Namun, pekerjaan tersebut juga memiliki risiko. Evi mengaku beberapa kali harus berhadapan dengan penertiban yang dilakukan petugas Satpol PP dan Dinas Sosial.
"Plusnya alhamdulillah bagus, minusnya dikejar-kejar. Dua minggu lalu jualan saya diambil, dari 60 bungkus kerupuk sisa sedikit, rugi sekitar Rp 225.000. Sebenarnya dilarang dan kami yang salah, tapi kadang terpaksa karena keadaan," tutur Evi.
Sebelum mengandalkan penjualan kerupuk dan tisu, Evi pernah bekerja sebagai kuli bangunan, buruh cuci panggilan, serta membersihkan kebun milik warga.
Ia tetap memilih berjualan karena penghasilan suaminya sebagai buruh bangunan tidak menentu. Dengan kondisi tersebut, Evi berusaha mendapatkan pemasukan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dari hari ke hari.
Untuk menuju lokasi berjualan dari rumahnya di Alolama, Evi biasanya diantar anaknya atau menggunakan jasa ojek.
Meski menghadapi berbagai kendala, Evi mengatakan dirinya akan tetap berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Ia berharap ketiga anaknya dapat menyelesaikan pendidikan dan memiliki kehidupan yang lebih baik.
"Semoga anak-anak saya sukses dan bisa mengangkat derajat keluarga. Kalau sedih atau dagangan tidak laku, saya banyak-banyak istighfar saja," pungkasnya.
Penulis: Wa Ode Ilma Amalia Zumrah
Editor: Ahmad Jaelani
