Ini menunjukkan PPP akan lebih terbuka dan lebih berpeluang untuk bergabung di pemerintahan.
PPP diprediksi juga tak akan malu jika harus mengirim sinyal ataupun kode lebih dulu dalam upaya untuk digoda dan mengajak PPP bergabung pada pemerintahan. PPP harus diakui juga jelas-jelas "berhutang budi" kepada Jokowi, karena langsung dan tak langsung membantu proses pergantian kepemimpinan dari Suharso Manoarfa kepada Muhammad Mardiono.
Oleh sebab itu, jika ada ajakan dari Prabowo Subianto diyakini akan dipertimbangkan PPP. Faktanya PPP banyak ruginya berkoalisi dengan PDIP, seperti menjadi pendukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang mengajukan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden (capres), ternyata Sandiaga Uno sebagai kader PPP yang diajukan tidak dipilih, malah Mahfud MD sosok profesional non-partai yang dipilih oleh PDIP.
Sayangnya, Mahfud MD yang bernuansa Nahdlatul Ulama (NU) tidak dieksplore oleh PDIP, bahkan PPP juga cenderung tidak ditonjolkan oleh PDIP. Sehingga koalisi PDIP dan PPP bersama tetapi tak hangat.
PPP juga merasakan bersama PDIP tidaklah membawa dampak membesarnya perolehan suara PPP.
