Mahfud MD malah tampak tak jauh beda dengan Jokowi, bahasa anak sekarang bahwa Mahfud dan Jokowi adalah 11, 12. Sarkasnya, yakni “kacang lupa kulit.” Mahfud melupakan bahwa Jokowi turut terlibat dalam mengajukan Mahfud MD, tetapi ketika dirinya terpilih tidak lagi di prank seperti pada Pilpres 2019, Mahfud MD malah dengan jumawa ingin memberikan contoh teladan kepada Jokowi. Padahal, Mahfud MD masih pembantunya Presiden Jokowi di Pemerintahannya.
Memanfaatkan Polemik Dua Koalisi Nasionalis
AMIN sepertinya memperhitungkan juga bahwa terjadinya perebutan suara antara kubu nasionalis dari koalisi Ganjar dan koalisi Prabowo, yang akan beresiko terjadinya penurunan perolehan suara diprediksi dan juga diharapkan adalah kubu Ganjar. Itu adalah perkiraan dari harapan kubu AMIN.
PDIP diprediksi kehilangan fokus karena kesal dengan Gibran, akhirnya hanya terfokus kepada pasangan Prabowo-Gibran, sehingga dianggap ini adalah kesempatan melemahkan lawan karena kehilangan fokus menjaga soliditas dan penguasaan daerah pemilihan. Sehingga harapan dari AMIN bahwa mereka akan bertemu dengan Prabowo, ketika PDIP mulai melupakan AMIN dan berpikir koalisi itu akan terjungkal.
Padahal memungkinkan yang terjadi sebaliknya, dengan terjadinya perseteruan antara Koalisi Ganjar-Mahfud dan Koalisi Prabowo-Gibran, suara salah satu koalisi akan melemah karena fokus menghadapi Pilpres 2024 teralihkan dengan saling berseteru, maka yang diprediksi menguat adalah juga persepsi negatif kepada PDIP.
