Seperti diketahui, Sara Pataanguna merupakan falsafah pemerintahan Kesultanan Buton yang telah diterapkan sejak ratusan tahun lalu. Dimana pada diktum pertama hingga keempat memiliki nilai dalam kehidupan bermasyarakat maupun pemerintahan saat itu.

Baca juga: Pandemi COVID-19, MTQ XV Kolaka Utara Digelar Sederhana

Adapun keempat diktum yang dimaksud adalah Poma-masiaka atau saling sayang, Poangka-angkataka saling menghargai, Pomae-maeka atau saling menghormati dan Popiara-piara atau saling menjaga dan memelihara. Diktum ini diambil dari falsafah Binci-binciki Kuli atau cubit diri.

Semula orang mengira bila PO-5 telah merusak tatanan nilai budaya lantaran menggabungkan Binci-binciki Kuli ke dalam diktum Sara Pataanguna. Sehingga empat diktum dalam Sara Pataanguna di zaman milenial berubah menjadi lima diktum.

Dari situ kemudian lahirlah PO-5. Celakanya, PO-5 ini lahir melalui karya ilmiah disertasi yang disusun oleh AS Tamrin saat meraih gelar doktor.