"Kalau begini kan pembodohan namanya, bukan lagi beasiswa Sultra Cerdas, tapi beasiswa Sultra bodong," kata Awaluddin, yang datang ke Yogyakarta tahun 2019 usai lulus dari Universitas Halu Oleo Kendari.

Fakta ini, dikatakan Awaluddin, sebenarnya mengindikasikan Pemerintah Sulawesi Tenggara layaknya tong kosong nyaring bunyinya.

"Tiap waktu bicaranya tentang transparansi, atensi terhadap sumber daya manusia dan pentingnya pendidikan, tapi realisasinya nol besar!" ungkap Awaluddin yang daftar Maret 2020 lalu.

Baginya, kalau Pemerintah Sulawesi Tenggara tidak sanggup menyediakan anggaran beasiswa, ada baiknya Pemprov memberikan penjelasan untuk mengklarifikasi apa hambatannya.

Baca juga: Pembelajaran Melalui Radio Komunikasi