Berbagai usaha untuk sembuh sudah dilakukan Hamka agar bisa kembali bekerja dan membiayai keluarganya. Namun rasa sakit yang dirasakannya, membuatnya sangat sulit beraktivitas. Bahkan untuk berdiri saja dia harus berjuang. Salah gerak sedikit saja, dia harus merasakan sakitnya hingga 2-3 minggu.

Ketiga anaknya, Killa yang berusia 3 tahun, Muhammad Alpa serta Muhammad Alpi yang lahir kembar berusia 9 bulan, membuat Hamka nyaris putus asa karena melihat mereka tumbuh seadanya dalam keadaan ekonomi yang sangat sulit.

"Seandainya membunuh tidak ada pidananya, mungkin bisa terjadi hidup anak-anak kami akhiri, agar tidak menderita. Cukup orang tuanya saja yang menderita," ungkap Hamka pilu.

Kepada Telisik.id Hamka mengungkapkan, sudah 15 bulan terakhir ini dia tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dari makan hingga susu untuk anak balitanya. Dalam keadaan sangat mendesak, ia dan sang istri hanya bisa berutang, yang entah kapan bisa dilunasi. Beberapa tetangga yang iba, mengulurkan sedikit bantuan.

Hamka mengungkapkan, selama ini dia menerima BLT dari pemerintah desa, sejumlah Rp 300 ribu per bulan, yang disalurkan setiap 4 bulan. Tentu saja jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.