"Aspek perzinaan itu bicara norma, aspek pariwisata itu bicara bisnis," katanya.
Setiap bisnis sejatinya punya pola dan strategi masing-masing untuk mengembangkannya. Artinya, masyarakat Indonesia khususnya Sulawesi Tenggara punya gaya, norma dan kearifan lokalnya sendiri.
Tidak harus mengadopsi budaya barat dengan seks bebasnya, pariwisata justru bisa berkembang dengan karakter kearifan lokal yang menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan.
Senada, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Sulawesi Tenggara, Suharno mengatakan, masyarakat harus senantiasa menjaga nilai-nilai luhur dan adat istiadatnya sebagai orang timur.
