Namun, Sukanto mengakui masih ada tantangan dalam menjaga kesinambungan ekspor akibat produksi yang belum stabil. Karena itu, pemerintah mulai mendorong pergeseran dari ekspor berbasis tambang ke sektor pertanian dan perikanan.
“Pertambangan itu terbatas, sementara pertanian bisa diperbarui. Ini yang kita dorong agar lebih berkelanjutan,” katanya.
Pemerintah Provinsi Sultra kini mulai fokus mengembangkan komoditas unggulan yang berkelanjutan, seperti kakao, mete, rumput laut, produk perikanan olahan, serta berbagai hasil pertanian lainnya.
“Komoditas ini punya potensi besar untuk ekspor dan bisa terus dikembangkan dalam jangka panjang,” tambahnya.
Sukanto juga mencontohkan keberhasilan ekspor oleh pelaku usaha lokal. Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Awunio di Konawe Selatan berhasil mengekspor 50 ton arang tempurung kelapa ke Xiamen, Tiongkok, pada 21 Februari 2026.
