“Ke depan pengembangan kawasan industri kesehatan harus kita genjot agar peralatan kesehatan kita bisa kembangkan sendiri. Tidak melulu kita harus impor, karena kita sebenarnya bisa membuatnya di dalam negeri,” katanya.
Usai memaparkan pemikiran dan visinya tentang kebangsaan, Ganjar kemudian dihadapkan pada beberapa pertanyaan kritis dari para panelis dan mahasiswa. Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UI, Ummi Salamah, salah satu panelis kemudian mengajukan pertanyaan.
“Terkait dengan komunikasi publik, posisi komunikasi publik sangat strategis di dalam kebijakan publik. Kita sudah belajar sangat keras pada saat pandemi COVID-19, bagaimana cara Bapak mengintegrasikan komunikasi publik dengan sistem kebijakan?” tanya Ummi.
Mendapat pertanyaan tersebut, Ganjar menjawab dengan bercerita tentang pengalamannya saat pandemi COVID-19 merebak. Ganjar mengatakan dirinya memilih jujur ketika merebak COVID-19. Dia menyebut saat itu ada 2 juta orang yang terjangkit COVID-19, namun tidak diinput oleh Kementerian Kesehatan.
“Ketika publik tidak tahu apa yang harus kita lakukan? Anda mau pakai isme yang mana? Kita tipu publik agar dia tenang atau kita berikan kejujuran dan dia akan cemas? Saya pilih yang kedua. Maka saya berdebat habis-habisan soal data tadi yang saya sampaikan. Kenapa Bu Ummi? Karena kita tidak pernah jujur dengan data,” jawab Ganjar.
