Program ini diharapkan dapat membantu 160 kepala keluarga (KK) yang saat ini tinggal di daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan ekstrem di berbagai kabupaten dan kota di Sultra.

Melibatkan masyarakat dalam budidaya larva maggot, diharapkan mereka dapat memperoleh penghasilan tambahan melalui penjualan maggot yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak atau bahan baku lainnya.

Bahan baku untuk budidaya maggot ini adalah sampah organik, yang menurut Makkawaru menjadikan program ini sangat relevan dengan pengelolaan sampah, salah satu fokus utama DLHK Sultra.

“Sekitar 33 persen dari total sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir adalah sampah organik. Program ini tidak hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga mendukung upaya pengelolaan sampah organik secara efektif,” tambahnya.

Salah satu kelebihan dari larva maggot, kata Makkawaru, adalah kemampuannya menguraikan sampah organik hingga lima kali lebih cepat daripada berat tubuhnya. Selain itu, proses penguraian ini dapat mengurangi emisi gas metan yang dilepaskan ke udara.