Friedman menyebutkan bahwa globalisasi itu memiliki tiga dimensi, yaitu: Pertama, dimensi ideologi, ditandai oleh kapitalisme dan nilai yang menyertainya, seperti individualisme, HAM, dan demokrasi. Kedua, dimensi teknologi, ditandai oleh makin majunya teknologi informasi.
Baca Juga: Kapitalisme Gagal Menjamin Kesehatan Mental
Ketiga, dimensi ekonomi, ditandai oleh adanya liberalisasi dan nilai yang menyertainya, seperti terbukanya arus manusia dan arus jasa serta barang. Secara kebetulan sektor kesehatan di masukkannya ke dalam sektor jasa (dimensi ekonomi globalisasi).
Dengan masuknya pelayanan kesehatan ke dalam agenda globalisasi maka pemerintah, konsil kedokteran, organisasi profesi kesehatan, assosiasi fasyankes, assosiasi farmasi, dan lainya kemudian secara rutin melakukan dialog untuk membicarakannya. Mengapa perlu membicarakannya? Sebab, banyak ahli yang memberi pesan agar tidak gagah-gagahan mengikuti globalisasi tanpa mengukur kemampuan sendiri.
Joseph Stiglitz menjelaskan bahwa ideologi pasar bebas yang ada pada globalisasi seratus persen mencari profit tanpa pertimbangan apa pun juga. Sehingga, perlu mendialogkan apa yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Bukan apa yang terbaik bagi kepentingan diri sendiri dan kelompok, tapi tidak baik bagi rakyat.
