MUNA, TELISIK.ID - Sekelumit persoalan masih terus terjadi di Rumah Sakit (RS) Raha. Buntutnya, pasien terkena imbasnya, akibat minimnya pelayanan.
Usut punya usut ternyata persoalan yang terjadi adalah uang jasa dan insentif yang tidak sesuai dengan beban kerja para dokter.
Dokter spesialis anastesi, dr Agus Susanto mengaku, jasa dokter masih di bawah standar. Kemudian, insentif dokter sebesar Rp 30 juta per bulan selalu telat dibayar, karena dibebankan pada Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RS.
"Bukan saja jasa dan insentif, fasilitas dan sumber daya manusia masih belum memenuhi standar," ungkap Agus Susanto, Rabu (16/6/2021).
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Muna, dr Abdul Wahid Agigi sangat menyayangkan persoalan internal RS diungkap di publik. Ia hanya menyarankan, agar besaran jasa dokter dibuatkan standarisasi melalui peraturan daerah (Perda). Begitu juga, dengan insentif agar kembali dialihkan melalui APBD. Karena, bila dibebankan kepada BLUD, agak sulit akibat pendapatan RS selama pandemi COVID-19 anjlok.
