Kekhawatiran Netty ini beralasan, mengingat beberapa hari yang lalu sudah muncul penyataan sikap dari 16 Organisasi Profesi Kesehatan yang satu suara, menganggap tudingan lahan bisnis sebagai ujaran kebencian, fitnah, hoaks dan tindakan sewenang-wenang terhadap tenaga kesehatan.

Dalam surat pernyataan tersebut, dikatakan, guna menghindari benturan-benturan selanjutnya, maka tenaga kesehatan akan menyerahkan tugas dan tanggungjawab penanganan COVID-19 kepada Pemerintah.

Dalam tuntutan tersebut, mereka meminta agar kasus ini diusut tuntas, dan para pelakunya diberikan sanksi hukum sesuai peraturan yang berlaku. Menjadi hal wajar jika mereka mengatakan akan mundur, dan menyerahkan tanggungjawab, jika pemerintah tidak segera bertindak.

"Bayangkan, tenaga kesehatan sudah bekerja keras dan mempertaruhkan nyawa untuk melayani pasien, lalu dituduh menjadikan pandemi sebagai lahan bisnis, siapa yang bisa menerima?" terang Netty.

Apalagi, selama ini mereka juga menyaksikan bahwa, sebagian masyarakat ternyata tidak membantu tugas mereka, karena tetap berkerumun dan mengabaikan protokol kesehatan. Terkait adanya  polemik mengenai pasien yang meninggal serta dikuburkan melalui prosedur COVID-19 tapi ternyata negatif, Netty melihat ini sebagai kelemahan diagnostik COVID-19 oleh pemerintah.