Meskipun bisa memakan waktu ratusan atau ribuan tahun, lapisan es bisa hancur lebih cepat, memicu mundurnya gletser yang tidak stabil dan berpotensi tidak dapat diubah. Tim ilmuwan AS dan Inggris dari Kolaborasi Gletser Thwaites Internasional melakukan perjalanan ke gletser pada akhir 2019, untuk lebih memahami pembentukan kembali garis pantai terpencil.

Dengan menggunakan bor air panas, mereka membuat lubang sedalam hampir 2.000 kaki (600 meter) ke dalam es dan, selama lima hari, menurunkan berbagai instrumen untuk melakukan pengukuran dari gletser. Salah satunya robot mirip torpedo yang disebut Icefin, yang memungkinkan mereka mengakses area yang sebelumnya hampir tidak mungkin untuk disurvei.

Baca Juga: 4 Negara Ini Larang Penduduknya Merokok

Britney Schmidt, seorang profesor di Universitas Cornell mengatakan, robot yang dioperasikan dari jarak jauh mampu mengambil gambar dan merekam informasi tentang suhu dan salinitas air, serta arus laut. Robot tersebut mampu berenang ke tempat-tempat yang sangat dinamis dan mengambil data dari dasar laut sampai ke es.

Hasilnya menunjukkan kompleksitas dari gletser tersebut. Para ilmuwan berkata, gletser itu memang makin berkurang, namun untungnya pelelehan banyak bagian papan es itu lebih rendah dari perkiraan. Tingkat lelehannya rata-rata 2 hingga 5,4 meter setahun, lebih rendah dari studi sebelumnya.