Amanda menjelaskan, penelitian tersebut berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan teknologi pembelajaran yang tidak hanya mampu memberikan respons akademik secara tepat, tetapi juga mempertimbangkan kondisi emosional mahasiswa.
“Pada penelitian ini saya ingin melihat apakah umpan balik dari AI bisa tetap akurat sekaligus lebih manusiawi, terutama ketika mahasiswa mengalami kecemasan saat belajar matematika,” ujarnya.
Salah satu pendekatan yang menjadi fokus penelitian adalah anxiety-framed feedback. Pendekatan ini mengarahkan AI untuk memberikan umpan balik dengan mempertimbangkan kecemasan yang dialami mahasiswa ketika menghadapi materi matematika.
Melalui pendekatan tersebut, penelitian mengevaluasi apakah perhatian terhadap aspek emosional mahasiswa dapat berjalan tanpa mengurangi kemampuan AI dalam mengidentifikasi kesalahan konsep matematika.
Hasil penelitian menunjukkan model AI tetap mampu menghasilkan umpan balik yang akurat secara akademik sekaligus lebih mendukung kondisi emosional mahasiswa ketika dirancang menggunakan strategi prompting yang tepat.
