Belum lagi saat belajar lanjut Saleh, ketika anak yang satu minta dibantu, anak yang lainnya sudah memanggil ibunya untuk mengerjalam hal lain. Perlu diingat, tidak semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah itu semuanya dapat dipahami oleh orang tua murid.

Selain itu, ada banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dikerjakan. Praktis dengan pola belajar seperti ini, orang tua siswa dipastikan akan menghabiskan waktu untuk mengurus pelajaran-pelajaran anak-anaknya. Padahal, urusan rumah tangga bukan hanya soal sekolah, tetapi ada banyak hal lain yang mungkin lebih kompleks.

Kedua, anak-anak yang belajar di rumah sering sekali kurang tertib. Sebab, aturan yang selama ini diberlakukan di sekolah, tidak semuanya bisa dilaksanakan di rumah. Tidak jarang, anak-anak banyak yang belajar tidak fokus.

"Bagi yang punya Smartphone dan komputer, sering juga disalahgunakan anak-anak. Di sela-sela proses belajar mengajar itu, mereka juga bermain game. Kalau dulu orang tua dinasehati untuk tidak memberi Smartphone pada anak, sekarang ini orang tua malah dituntut untuk menyiapkannya. Ini sangat dilematis dan perlu dicarikan solusinya," imbuhnya.

Ketiga kata mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah ini, ada banyak pelajaran yang memerlukan praktikum dan juga praktik lapangan. Katakanlah misalnya, pelajaran biologi, kimia, dan fisika. Pelajaran-pelajaran tersebut sering sekali harus dengan praktikum. Dengan belajar jarak jauh, praktikum itu akan terkendala.