Sementara PPP lanjut Efriza, semenjak Suharso memegang tampuk kekuasaan PPP pada 2019, PPP tidak terlihat tidak punya kejelasan. Eksekutif PPP di daerah tidak ada yang menonjol untuk dipromosikan oleh PPP.
Di sisi lain, elite-elite PPP tidak bisa membawa isu yang menghadirkan respon positif dari masyarakat kepada PPP.
"Jadi pasca konflik Romahurmuziy dan Djan Faridz digantikan oleh Suharso Monoarfa, terlalu tenang. Sementara kalau PAN terlalu bergejolak sampai akhirnya banyak terjadi perpecahan, tapi lagi-lagi setelah itu sangat tenang sekali, tidak ada pergerakan yang menonjolkan bahwa PAN adalah partai parlemen," jelas Efriza, Minggu (11/9/2022).
Menurut Efriza, situasi yang terjadi baik di internal PAN dan PPP tersebut akan mempengaruhi langkah mereka menuju parlemen 2024.
Kendati begitu lanjut Efriza, untuk lolos di parlemen tidak hanya sekedar pergerakan partai, tetapi juga ditentukan figur-figur yang dipilih sebagai calon legislatif dan didukung calon presiden.
