Bahkan, kata dr Nila, pihak keluarga sudah diedukasi mengenai efek samping dari pemasangan alat bantu nafas yang diberikan bayi yang masih berumur satu bulan itu.
Ia menyebut, awalnya tanggal 28 Mei 2021, bayi yang saat itu masih berumur 23 hari masuk di UGD dengan keluhan demam tinggi, sesak napas, dan riwayat kejang di rumah.
Lebih lanjut, tambah dr. Nila, tindakan pertama langsung dipasangkan oksigen, namun, karena kondisi tak membaik dan badan bayi masih membiru.
Dengan persetujuan orang tua bayi yang juga seorang bidan itu, petugas memasangkan alat bantu nafas (CPAP) yang bertekanan tinggi.
"Kami sudah edukasi orang tua bayi, efek sampingnya ke paru-paru dan luka dihidung. Orang tua bayi setuju dengan tindakan tersebut," terangnya.
