Ia menyebut banyak peternak ayam kampung di Sulawesi Tenggara yang mulai mengeluhkan penurunan pendapatan karena kalah bersaing dengan ayam pejantan murah dari luar daerah.

“Kalau rumah makan mau untung besar silahkan, tapi jangan dengan mengorbankan konsumen dan peternak lokal. Cukup tulis dengan jujur di menu: ayam pejantan goreng atau ayam pejantan bakar. Selesai,” tegasnya.

Ia juga berharap, pemerintah daerah dan instansi terkait dapat turun tangan menertibkan persoalan ini, serta mendorong rumah makan untuk memanfaatkan hasil peternakan lokal guna mendorong ekonomi daerah.

Lebih jauh, Widhi juga menyinggung potensi pelanggaran terhadap standar halal, karena akad jual beli yang tidak sesuai.

“Yang kita perjuangkan bukan hanya soal harga, tapi soal kejujuran. Konsumen harus tahu apa yang mereka bayar, dan peternak lokal juga harus diberi ruang yang adil untuk bersaing,” ungkapnya.