Senada, salah satu akademisi Universitas Halu Oleo (UHO) yang juga Kepala Laboratorium Unit Agrostologi Fakultas Peternakan, Syamsuddin menegaskan, praktik semacam itu bisa merusak citra dan nilai mutu ayam kampung lokal.

Ia menyayangkan, jika rumah makan tidak transparan dalam menyampaikan informasi jenis ayam yang mereka sajikan.

"Kalau ini dibiarkan, nilai kualitas ayam kampung bisa turun. Padahal ayam kampung dipelihara secara tradisional, makanannya alami, berbeda dengan ayam pejantan yang diternak massal. Konsumen berhak tahu apa yang mereka makan,” tegasnya.

Saat dikonfirmasi, seorang sales ayam pejantan bernama Irfansyah mengakui jika pasokan mereka saat ini memang hanya berupa ayam pejantan dan bukan ayam kampung.

Baca Juga: Penipuan Transaksi QRIS Palsu Marak di Kota Baubau