Jokowi Ajukan Prabowo-Gibran Kembali

Awal tahun 2026 ini, rakyat mungkin saja jengah menyaksikan riuh-rendah komunikasi politik partai-partai politik dii pemerintahan maupun partai politik baru, yang sudah membicarakan terkait pemilu, dengan mengusung kembali Prabowo untuk ikut Pilpres berikutnya agar dapat menjabat sebagai Presiden dua periode.

Rakyat jengah, karena pemerintahan ini baru berjalan belum genap dua tahun. Tetapi, pembicaraannya seolah ini adalah tahun politik menuju Pilpres. Padahal banyak program kerja dari visi-misi Presiden yang belum berjalan optimal. Kinerja beberapa menteri di kabinet yang belum optimal mewujudkan visi presiden, sehingga hasilnya belum dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dalam aspek kesejahteraan rakyat.

Nafsu kekuasaan, narasi kuasa, itulah yang menghinggapi politisi di Indonesia. Mantan Presiden Joko Widodo saja, mengalami post power syndrome, yang awalnya ia ingin setelah paripurna sebagai presiden menimang cucu, menikmati suasana indah di Solo, malah nyatanya ia terjun ke politik praktis berganti baju partai dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sekarang bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Jokowi bersama PSI sesuatu yang janggal, ia sebagai dewan pembina juga belum jelas, ditenggarai ia juga belum berkartu anggota PSI, alias tidak sebagai kader PSI. Tetapi karena PSI, dipimpin oleh Kaesang Pangarep yang merupakan anak bungsunya Jokowi, PSI malah mengkultuskan Jokowi sehingga Jokowi seolah “ideologinya” PSI. Akhirnya, PSI dari partai politik dengan semboyan anak mudanya, bergeser menjadi partainya keluarga Jokowi.