Pernyataan PKB dan PAN yang enggan membicarakan Gibran, maupun mengiyakan paket ulang antara Prabowo-Gibran, dapat dimaklumi. Sebab, jika kita pelajari dinamika politik di Indonesia, periode kedua belum pernah terjadi adanya paket ulang dari petahana.
Malah sebaliknya yang terjadi adalah pecah kongsi seperti Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) diperiode keduanya. Pecah kongsi dan saling berhadapan untuk berebut hati pemilih agar terpilih sebagai presiden di Pilpres 2009 lalu.
Ditenggarai, perilaku yang sama dalam Pilpres 2029 mendatang akan terulang, yakni adanya komunikasi politik yang merusak hubungan presiden dan wakil presiden, sehingga pemerintahan menjadi tidak baik-baik saja. Komunikasi politik yang buruk memungkinkan dilakukan oleh elite partai politik dari partainya presiden atau partainya wakil presiden.
Realitas ini sempat terjadi di era pemerintahan SBY, dengan komentar politik Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok kala itu, bahwa Golkar hanya akan mendapatkan 2,5 persen suara pada pemilu legislatif ternyata benar-benar membuat Golkar meradang.
Dari komentar sinis tersebut, menyebabkan hubungan harmonis kedua partai yakni Partai Demokrat dan Partai Golkar retak, bahkan rencana duet SBY-JK dua periode malah kandas, yang terjadi adalah saling berhadapan bertarung sebagai capres di Pilpres 2009 lalu.
