Misalnya saja dalam lagu Titip Rindu Buat Ayah berikut ini. Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa//benturan dan hempasan terpahat dikeningmu//kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras//namun kau tetap tabah hm//meski nafasmu kadang tersengal//memikul beban yang makin sarat//kau tetap bertahan.
Baca juga: Indah Luwu Utara: Kepala Daerah Perempuan Pertama di Sulsel
Lagu tersebut jika didengar dalam hening sepi nan suasana temaram, akan menyusuri relung terdalam, mengundang ingatan purba, lalu meretas bulir air mata. Sungguh mengingatkan kita kepada sosok ayah yang berjuang melawan nestapa dari terpa terik, demi masa depan anak-anaknya tercinta.
Ebiet tampak teliti dan telaten mendeskripsikan perjuangan keras seorang ayah. Ia gambarkan mata, sebagai jendela yang telah melahap sepuluh ribu peristiwa. Guratan di kening sebagai bukti memecah solusi dari masalah sepanjang usia.
Ebiet membawa kita melihat lebih dalam dari wajah yang kita lihat biasa saja selama ini dari seorang Ayah. Wajah bukan hanya bentuknya, melainkan fenomena panjang dari wajah itu. Ebiet hendak berpesan, coba lihat lebih dalam, hayati lagi.
