Mak Ina adalah pekerja mandiri. Secara sederhana, apa yang ia kerjakan menunjukkan bagaimana perekonomian Buton Utara bersumber dari sumberdaya sekitar untuk sejumlah pekerjaan seperti berkebun,bercocok tanam di sawah atau di perikanan.
Buton Utara (bagian dari Pulau Buton) memang dikenal kaya dengan sumberdaya alam. Buton memiliki potensi yang menggiurkan, sedikit explosive, misalnya aspal, minyak bumi, emas dan beberapa informasi menyebutkan uranium. Tapi hasil yang non explosive juga melimpah baik dari perkebunan; beras merah, putih, coklat, hitam, perikanan; tuna dan rumput laut, dan berbagai hasil hutan; kelapa, mete dan sebagainya.
Tapi tampaknya pemimpin Buton Utara saat ini memiliki pemikiran jangka panjang, tidak berambisi mendapatkan limpahan uang secara cepat melalui explorasi dan exploitasi tambang, ia justru memilih jalan panjang yang seringkali membuat sakit kepala karena mata rantainya berliku liku; mendorong masyarakat paham standar pertanian, memastikan kualitas control produk, mencarikan pasar dan sebagainya. Ini bukan pekerjaan mudah.
Komitmen Pemerintah Buton Utara mengingatkan pada komitmen Pemerintah Jepang ; menghidupkan pertanian. Pasca perang dunia ke-2, Pemerintah Jepang menjadikan pertanian sebagai penggerak utama ekonomi mereka. Tak tanggung tanggung semua upaya digunakan untuk menjadikan pertanian sebagai sektor utama dan hasilnya adalah Jepang adalah negara dengan sistem pertanian terbaik di dunia.
Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Pemerintah Jepang hingga pertanian mereka tumbuh jadi tulang punggung? Pemerintah mengatur harga, memberikan subsidi, melindungi produk local, menyediakan dan bahkan membagi lahan. Ekonomi kerakyatan bukan hanya theory, ini malah dibuktikan dengan menghidupkan koperasi pertanian Jepang.
