Lembaga inilah yang bertugas seperti sebagian besar Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) atau Koperasi di Indonesia yakni mengumpulkan, mengangkut, mendistribusikan hingga menjual produk pertanian. Koperasi Jepang bahkan menyediakan sarana produksi lengkap. Saking kuatnya, koperasi Jepang juga mengatur pengolahan produk, bertindak sebagai bank, menyediakan asuransi dan layanan kesehatan.
Pokoknya petani harus sejahtera dan kerusakan alam menjadi minim. Untuk sampai kearah maksimal,koperasi Jepang membangun jaringan secara besar besaran ke semua supermarket local, pasar international dan ke wilayah Pemerintahan Jepang lainnya. Pemerintah Jepang bahkan menetapkan harga produk impor tak boleh lebih murah dari harga produk local. Kan aneh, kalau harga beras dari negara lain lebih murah da bertebaran di Jepang.
Kembali ke Buton Utara, saya berkesempatan diajak mengunjungi bakal calon gudang kopra, melihat mete, melihat showroom toko oleh oleh dan berkunjung ke pasar Buton Utara. Ini serpihan serpihan kecil yang telah dibangun di Buton Utara. Produk beras merah, mete, virgin oil, kopra putih dan beberapa jenis produk lainnya bahkan sudah melewati tahapan pengemasan yang cantik. Selesai? Belum.
Pemerintah Buton Utara masih harus meyakinkan pasar bahwa produk mereka adalah produk organic, bukan produk instan yang berbau petsisida.
Jalan masih panjang kearah sana. Saya yakin Pemerintah Buton Utara memiliki optimistic dan kesempatan yang cukup untuk mensejahterakan rakyatnya. Melihat Mak Ina yang menawarkan dagangannya, mengunjungi pasar yang bertaburan produk local, dan melewati kebun kebun yang sehat sudah cukup menjadi melegakan, ahh ternyata masih ada pemerintah yang komitmen untuk meningkatkan status kebutuhan social masyarakatnya tanpa meminggirkan ekosistem alam ini. (*)
