Kendati tiap-tiap wilayah di Indonesia, khususnya yang masih masuk cakupan kekuasaan Kesultanan Buton memiliki tarian perang. Namun, berbeda halnya dengan Tarian budaya yang dipertama kali diperkenalkan oleh La Paleandala itu .
Dimana para penari Fomani berasal langsung dari keturunan seorang pejuang yang diperintahkan pada masa pemerintahan Kesultanan Buton untuk menjaga perbatasan wilayah Kesultanan Buton itu sendiri, atau yang sudah pernah menjabat sebagai pemangku adat pada wilayah Pulau Siompu.
Tari Fomani umumnya, dimainkan oleh dua orang laki-laki dewasa baik yang berusia paruh baya maupun yang lanjut usia yang tampil dengan kostum kampurui (penutup kepala khas Buton), celana panjang yang dipadukan dengan sarung tenun Buton yang dieratkan dengan sabuk pinggang.
Lalu ada pula kain merah putih yang diliitkan pada sekitar area pundak kanan dan kiri dengan bentuk menyilang menutup area sekitar dada. Hal ini memvisualisasikan keberanian dari masing-masing penari.
Pada pertunjukannya, dua orang laki-laki dewasa akan saling menyerang seakan-akan tengah terjadi pertarungan sengit antara kedua kubu, yang mana diawali dengan gerakan memutar arena pertunjukan seni hingga masing-masing penari menancapkan ujung Pandanga (sebutan untuk tombak) masing-masing kepermukaan tanah.
