Namun, dia belum dapat memperkirakan secara pasti volume ekspor produk turunan nikel yang berpotensi terdampak. Besaran dampak masih bergantung pada tingkat penurunan produksi serta komoditas yang mengalami gangguan.

“Penurunan kapasitas operasional hingga 40% di salah satu pusat hilirisasi terbesar Indonesia ini secara langsung akan menggerus volume pasokan produk olahan nikel siap ekspor, seperti nickel pig iron (NPI) atau feronikel,” kata Wahyu, seperti dikutip dari Bloomberg Technoz, Minggu (6/9/2026).

Wahyu juga menilai gangguan produksi di IMIP berpotensi memengaruhi pasokan nikel global. Menurutnya, Indonesia memiliki peran penting dalam perdagangan komoditas nikel dunia.

“Penurunan suplai dari Indonesia berpotensi memperketat ketersediaan bahan baku nikel global. Terutama untuk kebutuhan industri baja nirkarat dan rantai pasok baterai kendaraan listrik, sehingga memaksa pembeli internasional untuk mencari alternatif pasokan yang terbatas atau mengandalkan cadangan yang ada,” ujarnya.

Ekspor Sulawesi Tengah Didominasi Besi, Baja, dan Nikel