Fitrawan menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan mengembangkan obat antifungi (antijamur, red) dan diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi mahasiswa dan masyarakat. Anggaran yang diterima dari Kemendikbudristek akan digunakan untuk pembelian bahan-bahan penelitian.
Ketua Tim PKM Hydrosa, Andi Muh. Rayhan Anugrah, mengungkapkan bahwa mereka telah melalui berbagai tahapan, termasuk workshop tentang penyusunan proposal PKM yang diadakan oleh BEM Farmasi UHO.
Setelah menyusun proposal dan melalui seleksi internal, mereka akhirnya berhasil mendapatkan pendanaan bersama 34 tim lainnya dari UHO.
Baca Juga: Deretan Kampus Top Dunia Punya Jurusan Bahasa Indonesia
“Setelah lolos pendanaan, kami mulai merealisasikan inovasi dan ide dengan bekerja di laboratorium selama kurang lebih tiga bulan,” kata Andi. Dia menambahkan bahwa meski ada tantangan, proses ini akan membawa mereka ke arah yang lebih baik.
