Berdasarkan penelusuran yang dilakukannya di berbagai media sosial selama pelaporan untuk kasus yang baru dilaporkan Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Universitas Indonesia (LKBH UI), Mike menyebut banyak yang diarahkan kepada kelompok yang tidak terima kalah di Pemilu 2024.

“Padahal ini tidak ada hubungannya sama sekali. Ini murni adalah kekerasan, ini murni pelanggaran etik, tak ada kaitannya dengan rasa dendam karena mungkin memilih paslon (pasangan calon, red) yang kalah (dalam Pemilu 2024),” ungkap Mike di Jakarta, Jumat (19/4/2024).

Mike menilai, kasus yang berulang oleh Hasyim sebagai sesuatu yang sangat ironis. Dia mengaku sulit untuk mendeskripsikan dengan kata-kata karena kasus ini seakan tidak memberikan efek jera bagi pelaku.  

Menyinggung kriteria penyelenggara pemilu, Mike berharap bukan hanya melihat nilai-nilai yang berkaitan dengan teknis kerja, kemampuan, atau pengalaman saja, tapi juga secara moral dan etik.

“Saya tak bisa menjamin, bisa saja banyak korban yang tak berani melapor karena berbagai pertimbangan. Kadang-kadang pelapor juga memerlukan pertimbangan 1001 pemikiran untuk bisa melaporkan pelecehan, kekerasan seksual atau intimidasi secara seksual karena relasi kuasa,” ujarnya.