Rangkaian acara Bongkahano Taho dimulai dengan tahap metamburi, yang merupakan kegiatan persiapan awal sebelum bercocok tanam.

Kemudian, dilanjutkan dengan tahapan seperti menebas, membakar, dan merangkai hingga akhirnya memasuki tahap penanaman dan pemanenan hasil bumi.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buton Selatan, La Ode Haerudin, mengapresiasi festival tahun ini karena memiliki keunikan tersendiri. Tarian khas Buton Selatan yang hampir punah, seperti tari Linda dan Mangaru, turut dipertunjukkan.

Penampilan ini tidak hanya memukau pengunjung, tetapi juga memberikan edukasi tentang filosofi yang terkandung dalam setiap tarian adat tersebut. Saat ini, ada 55 jenis ritual adat di Buton Selatan yang sudah terdaftar dalam Kekayaan Intelektual Komunal (KIK).

“Festival ini juga menjadi wadah untuk melestarikan seni budaya. Kami akan menghadirkan Sanggar Porompa untuk melatih generasi muda dalam menjaga tradisi, termasuk dalam melayani tamu pada ritual adat,” kata Haerudin.