Seiring perkembangan riset, pada tahun 2022 ditemukan bahwa motif layang-layang tak hanya berada di Gua Sugi Patani, tetapi juga tersebar di empat situs lainnya.  

Temuan ini bertambah lagi pada 2024, dengan total 14 lokasi baru yang menunjukkan motif serupa. Dukungan dana dari program Granucci pada 2025 kembali memperluas cakupan data, mencatat temuan motif tersebut di sejumlah lokasi di Desa Liangkabori dan Desa Kondongia.

Temuan-temuan ini memperkuat posisi Pulau Muna sebagai situs sejarah dunia yang unik, terutama di kawasan Asia Tenggara. Keunikan ini menjadi daya tarik utama dalam Festival Liangkabori, yang menggabungkan edukasi, pelestarian sejarah, dan promosi wisata budaya dalam satu wadah terpadu.

Kegiatan dalam festival meliputi pertunjukan budaya tradisional, pameran kerajinan tangan lokal, pementasan tari, hingga pameran layang-layang purba yang dikenal sebagai Kaghati Kolope.  

Lukisan hewan, pola geometris, dan bentuk abstrak yang hingga kini masih diteliti maknanya oleh para arkeolog. Foto: Repro Ayokemuna