Doa bersama disertai tudung makanan semarakan festival tersebut. Foto: Pemerintah Kabupaten Buton tengah

 

Para kesatria tersebut mendapat pelayanan khusus dari kesultanan Buton berupa makan dengan cara unik ala kesatria Buton yang disebut kande tompa, yang disuapi oleh para putri keraton.

Pekande-kandea diperkenalkan pada tahun 1597 pada saat kepemimpinan Sultan Buton ke IV Dayanu Ikhsanuddin dan Iman Masjid Agung Keraton Buton Sangia Wambulu. Hingga saat ini tradisi tersebut masih terpelihara dengan baik. Tradisi Kande-kandea di kemas sejalan dengan nilai ajaran Islam.

Selanjutnya, pelaksanaan Pekande-kandea dilaksanakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri dengan tujuan sebagai ajang silaturahmi dan ungkapan rasa syukur terhadap karunia Allah SWT kepada masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.

"Pekande-kandea ini memiliki makna yang mendalam memberikan pesan sosial yang senantiasa harus dijaga, dimana tradisi membuahkan kekokohan dan kekerabatan, jalin silaturahmi serta terpeliharanya kekeluargaan masyarakat Tolandona dan masyarakat lainnya," tuturnya.