"Keindahan gua kita hanya ditandingi oleh Mexico, makanya lukisan-lukisannya harus kita jaga," terangnya. 

Sementara itu, tim perumus sinopsis Gua Liangkabori, LM Masrul, menerangkan bahwa gua prasejarah Liangkabori merupakan salah satu situs arkeologi unggulan Sultra dan menjadi permata arkeologi Indonesia yang menyimpan warisan budaya prasejarah luar biasa.

Kompleks ini memiliki konsentrasi lukisan cadas paling awal yang pernah ditemukan di wilayah Sultra dan menarik perhatian para arkeolog sejak tahun 1977 oleh E.A.Kosasih dari tim Pusat Penelitian Arkeolog Nasional, Balai Arkeologi Makassar, Universitas Gajah Mada, Universitas Halu Oleo dan masih aktif diteliti hingga kini.  

Saat ini, tim Arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pakar seni Institut Seni Budaya Indonesia Bandung dan Universitas Halu Oleo masih melakukan penelitian di kompleks ini.

Hasil-hasil penelitian telah mendokumentasikan kekayaan lukisan cadas Liangkabori dari aspek arkeologis, seni, budaya hingga nilai- nilai sosial masyarakat prasejarah Pulau Muna masa lalu.