Berdasarkan penelitian terbaru tahun 2022 oleh Amaluddin Sope dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada, telah teridentifikasi 43 gua, ceruk, maupun tebing yang mengandung kurang lebih 1900-an lukisan cadas. Jumlah itu akan terus bertambah seiring ditemukannya situs-situs baru.
Gambar-gambar yang ada di Gua Liangkabori terbagi dalam dua fase utama, yakni fase awal ditandai dengan kehadiran motif cap tangan di beberapa gua di kompleks gua Liangkabori.
Bukti tersebut ditemukan di Gua Metanduno, Kaghofighofine, Pominsa, Toko, Wabose, dan Gua Kabori, menggunakan pigmen merah yang diletakkan secara khusus terpisah dari motif lain, diduga kuat bermakna sakral, dan penanda kehadiran awal.
Fase lanjutan, atau fase Austronesia, ditandai dengan kehadiran beragam motif manusia dalam berbagai aktivitas dan adegan, representasi ksatria Muna (Ewa Muna), adegan manusia menunggang kuda, manusia menggembala, manusia berburu, manusia bermain layang-layang, manusia menggunakan perahu, serta adegan menari yang menjadi proto type (tarian awal) tari-tarian masyarakat Muna hari ini.
Selain itu, penggambaran hewan seperti kuda, rusa, sapi, hewan laut, bulu babi, ditemukan di kompleks Liangkabori. Beragam lukisan yang tergambar bukan sekedar lukisan yang hadir tanpa makna, melainkan merepresentasikan jejak leluhur masyarakat Pulau Muna.
