Berdasarkan hasil riset, kompleks ini berpotensi sebagai tempat hunian masyarakat prasejarah Muna sebelum manusia mengenal rumah sebagai tempat tinggal seperti saat ini.
Uniknya, motif manusia yang beragam aktifitas dan beragam gambar layang-layang tidak ditemukan di situs-situs lain di Asia Tenggara, terutama Indonesia. Hal ini menjadikan Pulau Muna sebagai situs yang unik dan istimewa secara ilmiah dan budaya.
Temuan paling monumental adalah motif layang-layang di Sugi Patani yang telah memperkuat klaim Wolfgang Beck, peneliti asal Jerman tahun 1990-an, bahwa Pulau Muna sebagai tempat asal layang-layang tertua di dunia mendahului catatan dari Tiongkok dan Polinesia, memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat peradaban awal Nusantara.
Menambah data tahun 2022 yang menyatakan motif layang layang telah ditemukan di empat situs selain Gua Sugi Patani, tahun 2024 tim riset menemukan motif layang-layang di 14 lokasi lainnya, kemudian data motif layang-layang diperbaharui lagi melalui pendanaan internasional Granucci tahun 2025, yang tersebar di Desa Liangkabori dan Desa Kondongia.
Baca Juga: Tujuh Fakta Video Andini Permata 2 Menit 31 Detik Bareng Bocil, Link Bertebaran di Medsos
