Uniknya lagi, penggambaran layang-layang mencirikan bentuk kaghati dan katimboka, sedangkan temuan master piecenya (temuan istimewa) sejauh ini hanya ditemukan di Gua Sugi Patani, yang merepresentasikan manusia sedang bermain layang-layang dan Gua Kaundalo.

Saat ini, tim riset  sedang menelusuri jejak-jejak tarian masyarakat Muna yang tergambar di dinding-dinding kapur kompleks Liangkabori.  Warna-warna khas cokelat, hitam dan merah yang menghiasi dinding gua, ceruk maupun tebing di kompleks Liangkabori adalah simbol ekspresi dan identitas dari masyarakat prasejarah Pulau Muna.

Gambar-gambar ini mencerminkan nilai-nilai sosial, kepercayaan spiritual dan hubungan erat manusia dengan alam ribuan tahun lalu.

"Mari kita jaga, lestarikan dan promosikan Liangkabori bukan hanya sebagai milik masyarakat Muna tetapi sebagai warisan budaya bangsa Indonesia dan dunia. Mari kita banggakan dan wariskan Liangkabori sebagai bukti bahwa dari dinding gua di Pulau Muna, Indonesia telah menerbangkan imajinasi manusia ribuan tahun sebelum sejarah mencatatnya," ajak Masrul. (A)

Penulis: Sunaryo