Hasil imbang yang penuh pengorbanan tersebut membuat persaingan tetap terbuka lebar hingga pertandingan pamungkas fase grup. Sebaliknya, pada saat yang hampir bersamaan di Bandung, Malaysia menunjukkan daya serang yang luar biasa di luar dugaan.
Harimau Malaya menghantam Singapura 6-0 dalam laga bertajuk Derby Causeway. Bergson da Silva tampil beringas dengan mencetak hat-trick, sedangkan Stuart Wilkin, Paulo Josué, dan Syahir Bashah masing-masing menambahkan satu gol. Secara matematis, kemenangan itu sangat besar dan memenuhi syarat minimal tekanan grup.
Namun, enam gol tersebut ternyata belum cukup untuk membawa Malaysia melangkah ke final karena ledakan di Jakarta jauh melampaui batas ekspektasi. Namun, kemenangan mutlak Malaysia 6-0 atas Singapura tidak berhenti sebagai catatan statistik semata, ia langsung menimbulkan riak tanya yang masif di ruang publik sepak bola regional.
Kekalahan tersebut merupakan salah satu kekalahan terbesar yang pernah dialami Singapura kala menghadapi Malaysia, sekaligus menyamai margin kemenangan terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah pertemuan kedua tim pada tahun 1978 silam. Pertanyaan kritis publik tentang penurunan performa drastis Singapura tentu dapat dipahami sebagai bagian dari dinamika emosional sepak bola.
Kendati demikian, tanda tanya besar tersebut tidak dengan sendirinya menjadi bukti hukum atau vonis bahwa pertandingan tersebut telah diatur atau melibatkan suatu “kerja sama” non-teknis yang mencederai sportivitas. Sampai ada investigasi resmi dan bukti autentik yang dirilis oleh otoritas sepak bola, kesimpulan semacam itu harus ditempatkan secara proporsional sebagai dugaan, asumsi, atau persepsi kolektif publik, bukan sebagai sebuah kebenaran mutlak.
