Lebih lanjut, Reni juga mengungkapkan, daerah tersebut merupakan salah satu daerah yang sudah menjadi langganan banjir sejak lama. Namun, setelah bertahun-tahun baru saja terjadi lagi banjir besar seperti yang terjadi baru-baru ini.
"Daerah kami itu ibaratnya tempat penampungan air dari lorong-lorong sebelah, misalnya dari Lippo, Maxcel, BTN dan sekitarnya. Itu bisa banjir karena pemerintah bikin drainase di pinggir jalan belum diteruskan sampai ke Kali Kadia. Akhirnya daerah kami yang ibaratnya jadi wajan untuk menampung semua debit air yang mengalir," keluh dia.
"Kami sudah dari beberapa tahun lalu itu Pak Harjuna Nadjib selaku Ketua RT sudah ajukan ke Musrembang, ajukan ke tata kota, ajukan ke dewan tapi tidak ada realisasi. Pak lurah, camat dan bahkan dari dinas tata kota tiap bulan datang cuma datang memantau tidak ada gerakan dan solusi untuk kami warga," tambahnya.
Reni juga mengungkapkan bahwa dirinya sebagai salah satu masyarakat yang juga ikut terdampak sampai saat ini masih menunggu adanya kesadaran dari pemerintah untuk memberikan solusi terkait hal ini.
Sementara itu, tetangga korban, Wulan, juga ikut menceritakan kronologis kejadian yang menimpa balita malang itu.
