Kondisi geografis dan sosial ekonomi yang kurang mendukung berkontribusi terhadap tingginya angka penderita. Yeny menekankan bahwa kurangnya air bersih menyebabkan kebiasaan mandi yang jarang, yang meningkatkan risiko penyakit ini.

Dr. Mufqi H. Priyanto, Sp.DVE, dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), menjelaskan bahwa anak-anak di bawah usia 15 tahun sangat rentan terhadap frambusia. “Anak-anak sering bermain bersama dan kontak fisik yang erat memudahkan penularan,” ungkapnya.

Gejala awal frambusia berupa benjolan berisi cairan kekuningan dan berbau. Jika tidak diobati, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan pada kulit, tulang, bahkan organ dalam.

Pemerintah dan tenaga kesehatan terus berupaya melakukan pencegahan dan pengobatan. Deteksi dini dan pengobatan yang tepat sangat penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Baca Juga: Warga Minta Penanganan Serius Anak Jalanan di Kendari