Kehidupan pun terus berputar hingga sewaktu ia berhenti menjadi penjual nasi dan dipanggil salah seorang keluarga untuk membantu menjual rujak dengan gaji yang sudah ditentukan, mulailah ia menjadi penjual rujak dengan gaji harian.

Berbekal keahlian melihat lokasi strategis untuk berjualan, terkadang ia menyumbang ide kepada sang bos untuk menempatkan gerobak jualannya di tempat yang diminati banyak orang.

"Sebelumnya kan ini jualan di sebelah. Karena saya lihat ini strategis tempatnya, saya kasitau yang punya usaha untuk pindah di sini dan Alhamdulilah jauh lebih banyak pembeli di sini," ucapnya.

Sampai sekarang, ia tetap bersabar menjadi pedagang rujak milik orang lain, sembari mengasah kemampuan untuk membuka usaha sendiri dengan modal yang tengah ia persiapkan. Selain itu, ia selalu mengumpulkan uang untuk mewujudkan cita-citanya yang tertunda, kuliah.

Menjadi penjual rujak tidak membuatnya merasa malu. Bahkan ketika ia dicemooh oleh beberapa teman sebayanya karena pekerjaan itu, ia jadikan pemacu motivasi untuk membuktikan bahwa ia bisa berhasil melampaui mereka.