Temuan mengejutkan justru didapati Saenuddin di SMAN 1 Tirawuta, Kabupaten Kolaka Timur. Proyek strategis daerah tahun 2025 berupa pembangunan ruang kelas baru dua lantai senilai Rp 5 miliar hingga Rp 7 miliar menyisakan masalah finansial.
Meskipun gedung sudah selesai dikerjakan, diperiksa Inspektorat dan BPK, serta telah digunakan siswa, pemerintah daerah baru membayar 25 persen kepada pihak kontraktor. Sisa 75 persen anggaran hingga kini masih menunggak.
Tak hanya soal utang proyek, Saenuddin juga meradang saat meninjau langsung fasilitas mobiler (meja dan kursi) di ruang kelas baru tersebut.
"Materialnya terlalu ringan dan tidak sesuai spesifikasi anak SMA. Ini berpotensi cepat rusak dan memicu pemborosan anggaran. Saya minta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra mengevaluasi total rekanan pengadaan ini agar tidak terulang lagi," ujarnya.
